Mindaku menerawang jauh,
Yang menembusi igauan hari,
Kian meniti masa muka,
Ilmu,
Perintis mengorak kejayaan,
Benteng abadi sepanjang hayat,
Merungkaikan insaniah bestari,
Dinihari,
Tekad dan iltizam tersemat di kalbu,
Demi keutuhan ukhuwah,
Kian kuimprovisasi kelemahan diri,
Untuk mengejar sejuta kecemerlangan,
Dalam melayari bahtera hidup,
Luar jangkau diri,
Dunia yang fana,
Meniti intelektual bernas,
Menagih variasi inovasi,
Pencetus inspirasi kendiri,
Dewasa ini,
Cetuskan fenomena luhur dan bebas,
Martabat ideologi padu,
Bersama nasional dalam minda,
Menjadi inti hidupnya,
Pemangkin falsafah berwibawa,
Ketahuilah,
Revolusi abad ini,
Kian pupus erti kejahilan,
Persaingan pertarungan minda,
Kian mencabar bersama impaknya,
Dalam sikap proaktif diri,
Mendepani era globalisasi,
Renungilah sejenak,
Dalam kamar sanubari,
Hisablah taraf ilmunya,
Secara rohaniah,
Untuk tatapan menjangkau transformasi,
Bekallah diri dengan sejuta ilmu,
Sebagai alat dalam kehidupan.
Mindaku menerawang jauh,
Yang menembusi igauan hari,
Suatu tusukan membawa memori dalam dinihari,
Percintaan,
Tiada dalam kamus hidupku,
Ungkapan ini dikombinasikan pilu dan alpa,
Kegagalan cinta punah kegusaran,
Implikasi kiasan ke lembah lara,
Kamar sanubari,
Mengisi ruang pahitku,
Kutidak bisa menginterpretasi luahan dalaman,
Dalam manifestasi cinta lampauku,
Luka dalam pemusnah kematangan,
Kian berlalu detik memori,
Tiada apa kucatan dalam memoir,
Hanya jiwa penyimpan cintaku,
Sebagai kiasan penyuntik naluri diri,
Kini,
Cinta erti revolusiku,
Pemangkin falsafah rohaniah masa muka,
Abadi cinta,
Kian kurundumkan negatifku,
Dinihari diri ini penuntut,
Yang menggapai hasrat sanubari,
senantisa kutingkatkan improviasasi diri,
Untuk mentransformasikan kecemerlangan kendiri,
Dalam pelbagai aspek,
Demi benteng melayari hidup ini,
Kian mencabar,
Dalam liku luar jangkau diri.




